Abu Nawas (2) Ahkam (1) Akhlak (3) Al-Qur'an (3) Amal (2) Aplikasi (1) Aqidah (1) Cerita Islam (5) Cerita Nyata (3) Diskusi (1) Dosa (3) Dzikir (3) Haji (1) Haram (3) Hikmah (5) Ibadah (1) Idul Adha (6) Motivasi (2) Nabi (1) Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa sallam (1) Pengobatan (1) Puasa (2) Qurban (1) Ramadhan (3) Shalat (1) Syahwat (2) Tarawih (1) Zina (5)
Tampilkan postingan dengan label Abu Nawas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abu Nawas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 November 2012

Tidak seperti biasa, hari itu Baginda Raja harun al Rasyid tiba-tiba ingin menyamar menjadi rakyat biasa. Beliau ingin menyaksikan kehidupan di luar istana tanpa sepengetahuan siapa pun agar lebih leluasa bergerak.

Baginda mulai keluar istana dengan pakaian yang amat sederhana layaknya seperti rakyat jelata. Di sebuah perkampungan beliau melihat beberapa orang berkumpul. Setelah Baginda mendekat, ternyata terdapat seorang ulama yang sedang menyampaikan kuliah tentang alam barzah. Tiba-tiba ada seorang yang datang dan bergabung di situ, la bertanya kepada ulama itu.

"Kami menyaksikan orang kafir pada suatu waktu dan mengintip kuburnya, tetapi kami tiada mendengar mereka berteriak dan tidak pula melihat penyiksaan-penyiksaan yang katanya sedang dialaminya. Maka bagaimana cara membenarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang dilihat mata?" tanya orang tersebut kepada ulama.

Ulama itu berpikir sejenak kemudian ia berkata, "Untuk mengetahui yang demikian itu harus dengan panca indra yang lain. Ingatkah kamu dengan orang yang sedang tidur? Dia kadangkala bermimpi dalam tidurnya digigit ular, diganggu dan sebagainya. la juga merasa sakit dan takut ketika itu, bahkan memekik dan keringat bercucuran pada keningnya. la merasakan hal semacam itu seperti ketika tidak tidur. Sedangkan engkau yang duduk di dekatnya menyaksikan keadaannya seolah-olah tidak ada apa-apa. Padahal apa yang dilihat serta dialaminya adalah dikelilingi ular-ular. Maka jika masalah mimpi yang remeh saja sudah tidak mampu mata lahir melihatnya, mungkinkah engkau bisa melihat apa yang terjadi di alam barzah?"

Baginda Raja terkesan dengan penjelasan ulama itu. Baginda masih ikut mendengarkan kuliah itu. Kini ulama itu melanjutkan kuliahnya tentang alam akhirat. Dikatakan bahwa di surga tersedia hal-hal yang amat disukai nafsu, termasuk benda-benda. Salah satu benda-benda itu adalah mahkota yang amat luar biasa indahnya. Tak ada yang lebih indah dari barang-barang di surga karena barang-barang itu tercipta dari cahaya. Saking indahnya maka satu mahkota jauh lebih bagus dari dunia dan isinya. Baginda makin terkesan. Beliau pulang kembali ke istana.

Baginda sudah tidak sabar ingin menguji kemampuan Abu Nawas. Seketika itu juga Abu Nawas dipanggil untuk menhadap raja.

"Aku menginginkan Engkau sekarang juga berangkat ke surga kemudian bawakan aku sebuah mahkota surga yang katanya tercipta dari cahaya itu. Apakah engkau sanggup Abu Nawas?" perintah baginda pada Abu Nawas.

"Sanggup Paduka yang mulia." kata Abu Nawas langsung menyanggupi tugas yang mustahil dilaksanakan itu.

"Tetapi Baginda harus menyanggupi pula satu syarat yang akan Hamba ajukan."sambung Abu Nawas.

"Sebutkan syarat itu." kata Baginda Raja.

"Hamba mohon Baginda menyediakan pintunya agar hamba bisa memasukinya."

"Pintu apa?" tanya Baginda belum mengerti.

"Pintu alam akhirat." jawab Abu Nawas.

"Apa itu?" tanya Baginda ingin tahu.

"Kiamat, wahai Paduka yang mulia. Masing-masing alam mempunyai pintu. Pintu alam dunia adalah liang peranakan ibu. Pintu alam barzah adalah kematian. Dan pintu alam akhirat adalah kiamat. Surga berada di alam akhirat. Bila Baginda masih tetap menghendaki Hamba mengambilkan sebuah mahkota di surga, maka dunia harus kiamat teriebih dahulu." jawab Abu Nawas.

Mendengar penjetasan Abu Nawas Baginda Raja terdiam.

Di sela-sela kebingungan Baginda Raja Harun Al Rasyid, Abu Nawas bertanya lagi, "Masihkah Baginda menginginkan mahkota dari surga?".

Seketika itu juga Baginda Raja tidak menjawab dan diam seribu bahasa
Di Negerinya kemasyuran, kecerdikan, pengetahuan dan kemashyuran Abu Nawas telah terdengar sampai seantero penjuru. Selain itu Abu Nawas juga terkenal dengan perangainya yang alim sebagai seorang ulama. Maka tak heran banyak orang yang ingin berguru kepadanya dan ingin menjadi muridnya.

Murid abu nawas sangatlah banyak. Tidak orang-orang tua, orang muda, laki dan perempuanpun banyak yang menjadi muridnya. Dari sekian banyaknya murid Abu Nawas, ada salah seorang murid Abu Nawas yang selalu menanyakan mengapa Abu Nawas selalu ,engatakan begini dan begitu.

Di sore hari yang cerah ketika Abu Nawas sedang berkumpul bersama murid-muridnya, datanglah 3 (tiga) orang tamu dari negeri sebrang yang menanyakan pertanyaan yang sama kepada Abu Nawas.

Di sela-sela pembicaraan usai Abu Nawas memberikan jamuan kepada tamunya. Salah seorang tamu bertanya kepada Abu Nawas.

"Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?" tanya tamu pertama kepada Abu Nawas.

Abu Nawaspun menjawab "Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil."

"Mengapa demikian?" tanya orang pertama lagi kepada Abu Nawas.

"Sebab dosa-dosa kecil akan lebih mudah diampuni oleh Tuhan." kata Abu Nawas.

Mendengar jawaban Abu Nawas, tamu pertama terlihat puas karena ia yakin memang begitu.

Selang beberapa saat, tamu kedua yang dari tadi menyimak obrolan Abu Nawas, bertanya kepada Abu Nawas. Tamu kedua bertanya dengan pertanyaan yang sama.

"Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?" tanya tamu kedua kepada Abu Nawas.

"yang lebih utama adalah orang yang tidak mengerjakan keduanya." jawab Abu Nawas singkat.

Dengan penuh rasa penasaran tamu kedua kembali bertanya "Mengapa wahai Abu Nawas?"

"Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan." kata Abu Nawas.

Mendengar jawaban tersebut Orang kedua langsung bisa mencerna jawaban Abu Nawas.

Selang beberapa saat setelah tamu pertama dan kedua bertanya barulah tamu ketiga bertanya. Sama seperti tamu pertama dan kedua, tamu ketigapun menyakan hal yang sama kepada Abu Nawas.

"Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?" tanya tamu ketiga.

"Orang yang mengerjakan dosa-dosa besar." jawab Abu Nawas singkat.

"Mengapa demikian?" tanya orang ketiga.

"Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu." kata Abu Nawas mencoba menjelaskan pertanyaan tamu ketiga. Wakaupun dengan jawaban yang beda ternyata orang ketiga menerima aiasan Abu Nawas.

Setelah mendapat jawaban dari pertanyaan mereka, akhirnya ketiga tamu tersebut pamit untuk pulang kepada Abu Nawas. Ketiga tamu tersebut  pulang dengan perasaan puas.

Tinggalah Abu Nawas dengan murid-muridnya kini. Dan rupanya salah seorang murid yang banyak menyakan kenapa sang Guru berkaya begini begitu dari tadi menyimak perbincangan Sang Guru.

Karena rasa penasaran dengan pola pikir sang guru akhirnya si murid mencoba menanyakan kepada Sang Guru.

 "Wahai guruku, ada hal yang ingin kutanyakan padamu" tanya si murid kepada Abu Nawas.

"Hal apakah yang ingin kau tanyakan padaku?" jawan Abu Nawas dengan bijak

"Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda?" tanya murid lagi.

Mendengar pertanyaan tersebut, Abu Nawas langsung menjawab pertanyaan muridnya.

"Manusia dibagi tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati." jawab Abu Nawas singkat.

Dengan penuh rasa penasaran si murid kembali bertanya.

"Apakah tingkatan mata itu?" tanya murid Abu Nawas.

"Anak kecil yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata." jawab Abu Nawas mengandaikan.

"Dan  tingkatan otak itu?" tanya murid lembali.

"Orang pandai yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu besar karena ia berpengetahuan." jawab Abu Nawas.

"Lalu apakah tingkatan hati itu?" tanya murid Abu Nawas.

"Orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit. la tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar. Karena bagi orang yang mengerti tidak ada sesuatu apapun yang besar jika dibandingkan dengan KeMaha-Besaran Allah." jawab abu nawas dengan tenang.

Kini murid Abu Nawas mulai mengerti mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda.
beberapa saat kemudia si murid lembali bertanya lagi.

"Wahai guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan?" tanya si murid dengan rasa penasaran.

"Mungkin." jawab Abu Nawas.

"Mungkinkah, lalu Bagaimana caranya?" tanya murid Abu Nawas ingin tahu.

"Dengan merayuNya melalui pujian dan doa." kata Abu Nawas.

"Ajarkanlah doa itu padaku wahai guru." Pinta murid kepada Abu Nawas.

Doa itu adalah:

"ilahi lastu lil firdausi ahla,
wa la aqwa'alan naril jahiki,
fahabli taubatan waghfir dzunubi,
fa innaka ghafiruz dzanbil 'admi"

Dan arti doa itu adalah:

"Tuhanku, aku ini tidak pantas menjadi penghuni surga,
[tetapi] aku tidak akan kuat terhadap panasnya api neraka.
oleh sebab itu terimalah tobatku serta ampunilah dosa-dosaku.
[karena] sesungguhnya Engkaulah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar"

Popular Posts